Artikel

Inspirasi : Mengulik HADE-nya Berbisnis Pin

HADE dalam bahasa Sunda berarti hebat atau bagus. Pantas nama ini diusung sebagai bendera bisnis sekelompok mahasiswa IPB angkatan 45. Ya, HADE Media merupakan nama usaha dari usaha pin yang telah memiliki banyak pelanggan dari berbagai wilayah di Indonesia. Usaha ini dirintis pertama kali pada Juni 2009 oleh Wahyu, Ardi, Dimas dan Edy. Nama HADE pun merupakan singkatan dari keempat nama pendirinya tersebut. Uniknya produk keluaran HADE dapat ditemukan di www.pusatpinindonesia.com.

Awalnya mereka mengenal usaha pin ini ketika mengelola dana usaha Open House IPB 46. “Dari kegiatan tersebut, kami tahu bahwa bisnis ini sangat potensial di kampus. Bisnis ini pun terbilang mudah untuk dipelajari dan bisa dikerjakan sambil kuliah” ujar Ardi.

“Modal awal usaha ini sekitar Rp 3 juta yang diperoleh dari patungan dari kami berempat. Baru pada tahun 2011 kami memperoleh bantuan modal dari DPKHA (Direktorat Pengemangan Karir dan Hubungan Alumni-red) IPB melalui Program Mahasiswa Wirausaha 2011. Pesanan pertama waktu itu dari panitia Open House IPB 46 dan kelas-kelas matrikulasi tahun 2009.”jelas Ardi.

Sejak saat itu pesanan demi pesanan pun mulai berdatangan dan banyak didominasi oleh perusahaan seperti Koran Tempo, Yayasan Potads Indonesia, Elang Group dan berbagai event organizer kegiatan kampus. Tidak hanya datang dari daerah Jabodetabek, pesanan juga datang dari daerah-daerah lain seperti Padang, Palembang, Lampung, Madiun, Jogja, Semarang, dan kota-kota lainnya. Bahkan pin produksi HADE Media ini telah sampai di Palestina, Belanda dan Malaysia.

Ditanya cara memasarkan produknya, Ardi mengatakan bahwa timnya menggunakan pendekatan segmen pasar. “Untuk pasar kampus kami memasarkan menggunakan pamflet, proposal, facebook, dan lomba marketing PPIN. Sementara untuk pasar perusahaan, kita lebih menggunakan media online/website,”jelasnya.

Selain produksinya yang relative mudah, bahan dasar pembuatan pin ini pun tergolong mudah didapat. Bahan-bahan seperti kaleng, plastik putih, koin, peniti, kertas, dan laminasi sebagai bahan untuk membuat pin sangat mudah didapat. Harga satu buah pin berkisar Rp 2000-3500 tergantung bahan yang digunakan. Paling mahal terbuat dari logam atau besi harganya sekitar Rp30000. “Saat ini kita tidak mempekerjakan pegawai melainkan dengan menawarkannya kepada teman-teman mahasiswa tingkat pertama (sebagai marketing) saat ada pesanan. Walhasil, bisnis ini pun telah menularkan kreatifitas dan skill kepada mahasiswa lainnya.“ (dh)

Sumber :

Pariwara Berita IPB : Edisi Khusus Untuk WISUDAWAN, Edisi Juli / 2012, halaman 3

Drop a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *